Friday, 28 March 2014

CONTOH ANALISIS PENDIDIKAN

ANALISIS PENDIDIKAN DARI MENELADANI RASULULLAH SAW

A. Analisis Pendidikan terhadap Esensi Keteladanan Rasulullah Saw
Dari uraian bab terdahulu telah dijelaskan, bahwa keteladanan merupakan faktor yang sangat penting bagi orang yang meneladani dan meniru sikap pola hidup dan tingkah laku seseorang yang telah menanamkan nilai-nilai Islam, di mana nilai-nilai tersebut selalu baik, sehingga berpengaruh positif bagi setiap orang yang meneladaninya.
Teori pendidikan mengatakan, bahwa keteladanan yang harus ditiru adalah keteladanan Rasulullah Saw. sebab Rasulullah adalah hamba Allah yang telah diutus dan dipersiapkan Allah untuk menjadi sun' tauladan "uswatun hasanah" bagi seluruh manusia (QS. Al-Ahzab : 21).
Mengkaji keteladanan Rasulullah berarti membicarakan seluruh perbuatan dan perkataan yang pemah dilakukan di masa hidupnya. Sebagaimana dijelaskan oleh Hasby Ash-Shidieqy (1974 : 22) bahwa keteladanan Rasulullah dapat digolongkan menjadi dua bagian, di antaranya; pertama keteladanan Rasulullah dalam lbadah, dan kedua keteladanan Rasulullah dalam Muamalah.
Maka dengan demikian pelajaran dan hikmah yang dapat diambil dari keteladanan Rasulullah di antaranya tentang :
1.      Usaha Rasulullah dengan memberikan nasihat untuk meredam kemarahan Umar r.a.
2.      Meneladani Rasulullah merupakan bukti kecintaan dan ketaatan terhadap Sunnahnya.
Adapun agar pennasalahan di atas menjadi Iebih jelas dan hasilnya dapat memuaskan, maka penyusun mencoba untuk menjabarkan dan menguraikannya sebagai berikut :
1.      Usaha Rasulullah dengan memberikan nasihat untuk meredam kemarahan Umar r.a.
Al-Quran menjelaskan bahwa diangkatnya Muhammad Saw sebagai utusan Allah adalah merupakan pemberian Allah terhadap orang-orang mu'min yang mengajari dan membersihkan jiwa mereka. Beliau sebagai penasihat umat yang terpercaya, penuh kasih sayang yang telah mengibarkan bendera ta'lim dan tazkiyah, kedudukan yang tinggi melahirkan cahaya yang menerangi, yaitu sebagai pembawa berita gembira bagi mereka yang berjalan di bawah naungan cahayanya dan sebagai pemberi peringatan atau nasihat bagi mereka.
Seperti halnya pada peristiwa muamalah, bagaimana Rasulullah Saw dalam memberikan nasihat, arahan dan bimbingan terhadap sahabat Umar r.a tentang menghadapi perilaku seseorang dalam lain hal.
Nasihat-nasihat dan wejangan yang diberikan Nabi Saw itu tumbuh dari suasana kesucian jiwa para sahabat, suasana yang menunjukan loyalitas dan ambisi mereka terhadap ilmu, suasana yang mampu melahirkan keutarnaan untuk orang yang memiliki kemuliaan dan memelihara kehonnatan, suasana yang selalu dihiasai oleh kalimat "ya akhi" (wahai saudaraku) yang kerap kali terlontar dari mulut sang guru kepada muridnya, suatu kalimat yang indah yang terasa sangat menyejukkan perasaan setiap kali mengingatnya, kalimat yang mampu membuahkan jalinan ukhuwah yang kuat antara mereka. Nabi Saw telah memperlakukan mereka dengan perlakuan yang sangat familiar. Mereka tidak pernah diliputi kekhawatiran akan dibeda-bedakan. Perbedaan struktur sosial mereka akan terlupakan dengan perlakuan Nabi yang sangat terpuji itu. Bahkan Umar r.a sepanjang hidupnya selalu teringat akan ucapan Nabi yang pernah diucapkan kepadanya ketika is meminta izin untuk melaksanakan umrah, yaitu ucapannya : "Wahai saudaraku, jangan lupa doamu untuk kami." Umar r.a selalu mngenangnya: "Alangkah senangnya aku dengan kata-kata itu." Inilah suatu kesaksian atas keagungan Muhammad Saw yang telah memperlakukan murid­muridnya dengan akhlaq yang sangat terpuji itu. Mereka tidak pernah lupa dengan perlakuan tersebut dan tidak pernah merasakan adanya penghalang antara mereka dengan beliau. Suatu suasana yang tak pemah melahirkan keseganan untuk selalu melontarkan pujian kepada guru yang telah diliputi oleh kecintaan.
Kesucian jiwa para sahabat untuk menerima nasihat tidak hanya tampak dari penghormatan mereka terhadap Rasulullah sebagai guru dan pembimbing mereka, tetapi tampak juga dari adanya sikap saling hormat menghormati dan saling mengutamakan sahabat-sahabat lainnya.
Dari keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa, Rasulullah dalam memberikan nasihat kepada para sahabatnya dengan sangat bijaksana serta lemah­lembut sehingga dapat memberikan motivasi yang sangat tinggi terhadap sahabat­sahabatnya.
Oleh karena itu Rasulullah dalam mensosialisasikan ajaran Islam kepada sahabatnya, berbagai cara dan metode beliau gunakan. Sebagaimana yang dijelaskan oleh M. Alawi Al-Maliki (2002 : 47-49). bahwa cara Rasulullah dalam
memberikan pendidikan dan pengajaran yaitu : pembinaan umat, mengadakan pengkaderan, bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi. dengan hikmah, mauizhah hasanah dan jidal, memberikan motivasi kepada para sahabat agar mereka bergairah mempelajari ilmu, melalui pendidikan keteladanan dan demonstrasi yang baik, mengadakan diskusi, memberikan hafalan, serta memberikan nasihat.
Dengan cara-cara Rasulullah dalam memberikan pendidikan pengajaran di atas maka ajaran Islam mulai mendapatkan sukses yang gemilang dan lebih luas tersyi'ar.
Jadi dengan demikian hikmah dan pelajaran yang telah diberikan Rasulullah baik kepada para sahabat-sahabatnya ataupun pada kita sekarang ini, perlu kita pelajari dan dapat kita ambil manfaatnya. Hal ini dimaksudkan agar kita memiliki kepercayaan pada diri sendiri, jika mau belajar, berpikir dan bekerja keras.
2.      Meneladani Rasulullah merupakan bukti kecintaan dan ketaatan terhadap Sunnahnya
Menurut Yunahar Ilyas (1999 : 65) mengikuti Rasulullah Saw adalah salah satu bukti kecintaan seseorang hamba terhadap Allah Swt. Setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt tentulah hares beriman bahwa Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, penutup sekalian Nabi dan Rasul, tidak ada lagi Nabi apalagi Rasul sesudah beliau (QS. Al-Ahzab : 40). Beliau diutus oleh Allah Swt untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat nanti,

sedangkan kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS. Al-Anbiya : 107).
Nabi Muhammad Saw telah berjuang selama lebih kurang 23 tahun membawa umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Beliaulah yang berjasa besar membebaskan umat manusia dari belenggu kemusyrikan, kekufuran dan kebodohan. Berbagai penderitaan beliau alami dalam perjuangan itu, tapi semuanya itu tidak sedikitpun menyurutkan hati beliau untuk tetap berjuang membebaskan umat manusia.
Nabi sangat mencintai umatnya. Beliau hid up dan berinteraksi serta dapat merasakan denyut nadi mereka. Beliau sangat menyayangi umatnya clan beliau ikut menderita dengan penderitaan umat dan sangat menginginkan kebaikan untuk mereka.
Sebagai seorang mukinin sudah seharusnya dan sepantasnya kita mencintai beliau melebihi cinta kits kepada siapapun selain Allah Swt. Bila iman kita tulus, lahir dari lubuk hati yang paling dalam tentulah kita akan mencntai beliau, karena cinta itulah yang membuktikan kita betul-betul beriman atau tidak kepada beliau.
Sebagai konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya sebagai cinta yang pertama dan utama, maka tentu saja cinta kepada orang tua, anak-anak, suami atau isteri, harts benda dan lain sebagainya hares ditempatkan di bawah kedua cinta tersebut.
Dalam mencintai Rasulullah, marilah kita meneladani para sahabat­sabatnya juga. Menurut Muhammad'Ali Ash-Shabuni (1981 : 232) para sahabat,

jika diajukan pertanyaan di dalam majlis yang dihadiri Nabi, mereka tidak mau mendahului beliau menjawab, apabila dihidangkan makanan mereka tidak akan memulai makan sebelum Nabi memulainya, kalau berjalan bersama Nabi mereka tidak akan berada di depan.
Para sahabat, karena sangat hati-hatinya menjaga jangan sampai mendahului Rasulullah Saw, apabila ditanya oleh Rasulullah Saw biasanya mereka menjawab dengan mengatakan "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu", sekalipun sebenarnya mereka tahu jawabannya. Demikianlah sikap para sahabat memuliakan dan menghormati Nabi, sebagai bukti kecintaan dan kepatuhan mereka terhadap kekasihnya yaitu Rasulullah Saw.
Kalau kita buka lembaran sejarah dan kita telusuri kembali rangkaian kisah generasi pertama dari kalangan sahabat Rasulullah dan para pengikutnya, niscaya akan kita jumpai contoh-contoh manusiawi yang mengagumkan tentang bagaimana mereka merasakan manisnya iman dari meneladani Rasulullah yang menjadikan mereka taat dan patuh terhadap ajarannya.
Rasulullah Saw, sebagaimana rasul-rasul sebelumnya, diutus oleh Allah untuk diikuti dan dipatuhi (QS. An-Nisa : 64). Apa saja yang datang dari Rasulullah harus diterima, apa yang diperintahkannya diikuti, dan apa yang dilarangnya ditinggalkan. Ketaatan kepada Rasulullah bersifat mutlak, karena taat kepada beliau merupakan bagian dari taat terhadap Allah Swt. Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah meletakkan perintah taat kepada Rasulullah sesudah perintah taat kepada-Nya.

Bagi seorang mukmin, tidak ada jawaban lain apabila diperintah untuk patuh pada Rasulullah kecuali ucapan "sami'na wa atha'na. " Sebagaimana yang dmyatakan dalam firman-Nya
67.jpg
"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan; "Kami mendengar dan kami patuh. " Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. " (QS. An-Nur : 51)
Apabila perintah Rasulullah Saw tidak diikuti, malah yang diikuti adalah kemauan masing-masing, maka yang rugi bukanlah Rasulullah melainkan din' kita sendiri.
Ibarat jalan, maka jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Saw dalam kehidupan beliau adalah jalan lurus yang diridhai oleh Allah Swt. Melalui beliaulah, Allah Swt menunjukkan kepada umat manusia jalan lurus tersebut dan lengkap dengan rambu-rambunya. Barang siapa yang mematuhi rambu-rambu tersebut tentu dia akan selamat sampai di tujuan yaitu keselamatan hidup di dunia dan di akhirat, dan begitu juga sebaliknya.
Mengikuti dan mentaati Rasulullah Saw, berarti mengikuti jalan lurus tersebut dengan mematuhi segala rambu-rambunya. Rambu-rambu jalan tersebut adalah segala aturan kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah yang terlambangkan
dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Itulah dua wansan yang ditinggalkan Rasulullah Saw untuk umat manusia.
Ajaran Al-Quran dan As-Sunnah yang diwariskan oleh beliau bersifat konprehensif (mencakup seluruh aspek kehidupan), yang secara garis besar warisan Rasulullah tersebut dapat di bagi kepada aspek ubudiyah (aqidah, ibadah, akhlaq) dan aspek mu'amalah. Di antara empat aspek tersebut ada yang dijelaskan secara terperinci yang oleh karena itu bersifat statis, dan ada yang hanya diberikan garis besar atau prinsip-prinsipnya saja sehingga bersifat dinamis. Yang bersifat statis itu adalah agidah, ibadah, akhlaq (dalam pengertian nilai baik buruknya tidak berubah, tapi manifestasinya bisa berubah) dan sebagian kecil aspek mu'amalah (yaitu tata kehidupan berkeluarga). Sedangkan yang bersifat dinamis adalah sebagian besar aspek mu'amalah, seperti; politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
Ajaran yang statis tidak boleh mengalami perubahan karena fungsinya sebagai dasar atau landasan normatif yang membingkai dan mewamai semua aspek kehidupan manusia. Sejak pertama kali diajarkan oleh Rasulullah Saw kepada para sahabat, sampai kepada zaman sekarang Mil dan untuk masa seterusnya, adapun aspek-aspek yang statis itu tidak boleh mengalami perubahan. Apabila terjadi perubahan, akibat pengaruh yang datang dari luar Islam, baik dari agama-agama maupun dari budaya lain.
Berbeda dengan aspek statis, maka ajaran Islam yang bersifat dinamis selalu terbuka menerima perubahan. Oleh sebab itu Islam hanya memberikan prinsip-prinsip dasamya saja, sedangkan pengembangan dan penjabarannya
diserahkan kepada historisitas umat manusia di setiap waktu dan tempat. Misalnya prinsip musyawarah dalam memilih pemimpin, dapat dilaksanakan dengan mekanisme yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Dengan demikian ketaatan dan kepatuhan kepada Rasul akan membuahkan kehidupan yang baik, kehidupan yang sesuai dengan fithrah manusia dan sesungguhnya apa-apa yang dibawa oleh Rasul adalah kebutuhan manusia yang mengandung semua makna hidup yang sebenarnya.
Selain membuahkan kehidupan yang balk, yang layak, yang pantas, yang sesuai dengan kebutuhan dan yang dibutuhkan di dunia, ketaatan itu pun akan membuahkan kehidupan di akhirat nanti.

B. Nilai-nilai Pendidikan dari Meneladani Rasulullah Saw
Agama Islam telah mengajarkan kepada semua pemeluknya agar menjadikan dirinya sebagai manusia yang berjiwa suci dan luhur, memiliki kepribadian yang mulia, lebih dari itu agar menjadikan dirinya sebagai manusia yang beguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. la benar-benar dapat menghiasi dirinya dengan sifat-sifat kemanusiaan yang sempurna, menjadi manusia yang shaleh dalam arti yang sebenamya, selalu berusaha mempertinggi mutu kepnbadiannya sesuai dengan tuntutan Allah dan Rasul-Nya.
Agar kita dapat memelihara harga diri dan sekaligus meningkatkan mutu kepribadian yang luhur serta dihargai orang lain, maka hendaklah kita membekali
din dengan sikap dan perbuatan yang positif, di antara sikap dan perbuatan itu merupakan nilai-nilai pendidikan dan meneladani Rasulullah, yaitu :
1.      Lemah-lembut, orang yang memiliki sikap lemah-lembut ini, biasanya mempunyai perasaan halus, memiliki rasa belas kasihan dalam hati, sopan santun dalam berinteraksi atau pergaulan. Dan is akan mempunyai rasa belas kasihan kepada semua hamba Allah yang ada di muka bumi ini.
            Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 159 :
70.jpg
"Maka di sebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. " (QS. Ali Imran, : 159)
Menurut Zakiah Daradjat (1983 : 37) bahwa perasaan kasih sayang yang di dasarkan karena Allah akan mendapatkan ketenangan hati dan melegakan bathin sehingga perasaan aman dan tentram akan terasa, maka dengan sendirinya tindakannya akan tetap menunjukan bahwa ada rasa kasih sayang serta lemah­lembut tersimpan di dalamnya. Dengan memiliki sikap sayang kepada Allah maka seorang muslim akan rela berkorban di jalan Allah dia akan selalu berbuat kebaikan sesama manusia.
Kasih sayang merupakan kelembutan hati dan kepekaan perasaan sayang terhadap orang lain, merasa sependerita. Semua itulah yang mempersiapkan



seorang muslim untuk menghindari penderitaan, menjauhi kejahatan dan untuk menjadi sumber kebaikan, kebajikan dan kedamaian bagi seluruh manusia
Oleh karena itu sikap lemah-lembut dan kasih sayang im adalah kebutuhan bagi manusia terutama umat Islam (muslim) yang berperan sebagai khalifah di muka bumi ini yang selalu dihadapkan oleh berbagai watak, keyakinan serta kepercayaan, tanpa itu tugas sebagai kepemimpinannya tidak akan berhasil.
2.      Sabar, ialah tabah dan sanggup menderita dalam menghadapi berbagai cobaan
dan ujian. Orang tabah tidak pernah mengeluh dan tanpa ada rasa putus asa, baik dalam keadaan senang maupun susah.
            Sebagaimana firman Allah:
71.jpg
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Bagarah, 153)
Nabi Muhammad -Saw dalam menyiarkan agama Islam, selalu mengalami cobaan dan rintangan yang banyak sekali. Beliau dicaci-maki, bahkan mendapatkan perlakuan kasar dengan dilempari batu dan kotorang binatang, ketika mengerjakan shalat. Namun demikian beliau tetap sabar dan dengan lapang dada serta haft yang bersih tetap menjalankan tugasnya mengajak umat untuk memeluk agama Islam.


Sabar dalam ketaatan kepada Allah yaitu tetap memelihara pelaksanaan ketaatan itu dengan ikhlas dan melakukannya menurut ketentuan syara. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan harus menjauhkan din' dari hala-hal yang dilarang oleh agama secara terus menerus, karena hat itu pula yang akan menimbulkan rasa takut terhadap siksaan Allah serta menimbulkan buah dari kesabaran yaitu kekalnya iman.
3.      Jujur: yaitu sifat atau sikap seseorang yang menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya (benar), apa adanya, dengan tidak ditambah dan tidak pula di kurangi. Dalam hubungannya dengan sesama manusia, is selalu berusaha memberi manfaat kepada orang lain serta menjaga jangan sarnpai apa yang dikatakan dan dilakukannya itu mengikuti orang lain.
            Sabda Rasulullah Saw
72.jpg
"Manusia yang paling baik adalah manusia yang paling berguna (berjasa) bagi orang lain. " ( HR. Qudha'i dari Jabir)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa sifat seorang muballigh, pengajar dan pendidik adalah sifat shidiq (berkata benar) dan amanah (dapat dipercaya) dalam menyampaikan tablighnya.
Sebagaimana sifat-sifat tersebut sudah melekat pada din Nabi Saw yang menonjol sebelum kerasulannya, karena beliau selalu berkata benar, jujur dan dapat dipercaya. Kedua sifat inilah kemudian menjadi asas dasar dalam menyampaikan risalahnya. Sampai-sampai kedua sifat ini menjadi julukan bagi dirinya, orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan ash-Shadiqul Amin
(orang jujur yang dapat dipercaya). Demikianlah Allah menghendaki agar julukan tersebut membumbung tinggi dalam pandangan manusia dan menjadikan sebagai dasar dalam memberikan manfaat ataupun jasa di antara sesamanya.
4.      Menepati janji; Agama Islam mengajarkan agar umatnya menepati janji, sebaliknya membenci orang yang ingkar janji, sebab akan menghilangkan kepercayaan orang lain dan merupakan dirinya sendiri. Sebagaimana firman­ Nya dalam QS. Al-Isra ayat 34 sebagai berikut :
73.jpg
"Dan penuhilah olehmu akan janji, sesungguhnya janji itu akan ditanyakan (dimintai pertanggung jawaban), " (QS. Al-Isra, : 34)
Karena janji adalah sebagai hutang atau amanah, jadi ayat di atas menunjukan bahwa yang di mana apabila amanah itu tidak dapat dilaksanakan oleh orang yang bersangkutan (meninggal), maka amanah tersebut dibebankan kepada orang yang ada hubungannya dengan orang yang diberikan amanah atau hutang tadi (keluarga atau ahli warisnya), karena orang yang memiliki hutang wajib hukumnya untuk membayar hutang tersebut.
5.      Ikhlas; yaitu mengerjakan sesuatu, baik yang berhubungan langsung dengan Allah maupun sesama manusia hendaklah dengan perasaan ikhlas tanpa ada paksaan, semuanya dikerjakan semata-mata karena Allah.
Sikap ikhlas itu tampil dari hati yang rela berkorban baik terhadap Allah sebagai penciptanya ataupun sesama manusia, hal itu merupakan motivasi untuk melakukan pengabdian dalam mengemban peranan dalam. menjalankan kekhalifah yang di dalamnya tersirat kehendak dan perilaku berdisiplin, berupa kesediaan berlaku konsekuen dalam menjalankan serta mematuhi peraturan dan ketentuan.
6.       Optimis; mempunyai cita-cita yang tinggi, yakni keinginan yang di barengi dengan usaha yang sungguh-sungguh dan penuh kesabaran, agar menjadi manusia yang hidupnya dapat bermanfaat bagi dirinya dan bagi orang lain. Sebaliknya Allah membenci orang yang pesimis atau putus asa, seperti dijelaskan dalam Quran surat Yusuf ayat 87, yang artinya : " dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir."
Oleh karena itu sikap optimis dan dibarengi dengan keyakinan yang tinggi, yang akan mengukuhkan niat untuk mengisi lembaran hidup dengan penuh keikhlasan mematuhi petunjuk-petunjuk Allah dan rasul-Nya. Karena Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang mendekatkan din kepada-Nya serta menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Maha Pemurah, Maha Kaya dan Maha Mendengar do'a dan usaha orang yang selalu taat serta patuh terhadap aturan dan petunjuk-Nya.
Dari semua nilai-nilai edukatif di atas memberikan gambaran tentang sebagian kepnbadian sang pendidik Saw. Seperti yang telah dibahas, bahwa beliau sangat berambisi atas keberhasilan dan keselamatan umatnya lewat penyampaian nsalahnya. Dan risalah itu telah sampai kepadanya dengan jalan yang aman dan tenteram di dalam hatinya dalam keadaan terang dan jelas. Beliau sendin sangat dekat dengan orang-orang yang di sekitamya karena kelembutannya dan kasih sayangnya sehingga mereka mencintainya dengan kecintaan yang tiada taranya. Kesabaran dan ketabahan telah dibekalkan kepadanya di saat-saat banyak rintangan, kelapangan dada telah beliau miliki di saat-saat pendentaan disertai dengan ambismya yang selalu membara untuk menyampaikan risalah. Maka beliau berjuang tanpa panu-ih, tanpa mengharapkan balasan apapun atas segala apa yang telah dilakukannya. Imlah suatu kesempurnaan yang layak diperhatikan oleh setiap guru dan pendidik demi tercapainya kesuksesan dalam pengajaran.


No comments: