ANALISIS PENDIDIKAN DARI MENELADANI RASULULLAH SAW
A.
Analisis Pendidikan terhadap Esensi Keteladanan Rasulullah Saw
Dari uraian bab terdahulu telah dijelaskan, bahwa keteladanan
merupakan faktor yang sangat penting bagi orang yang meneladani dan meniru
sikap pola hidup dan tingkah laku seseorang yang telah menanamkan nilai-nilai
Islam, di mana nilai-nilai tersebut selalu baik, sehingga berpengaruh positif
bagi setiap orang yang meneladaninya.
Teori pendidikan mengatakan, bahwa keteladanan yang harus ditiru
adalah keteladanan Rasulullah Saw. sebab Rasulullah adalah hamba Allah yang
telah diutus dan dipersiapkan Allah untuk menjadi sun' tauladan "uswatun
hasanah" bagi seluruh manusia (QS. Al-Ahzab : 21).
Mengkaji keteladanan Rasulullah berarti membicarakan seluruh
perbuatan dan perkataan yang pemah dilakukan di masa hidupnya. Sebagaimana
dijelaskan oleh Hasby Ash-Shidieqy (1974 : 22) bahwa keteladanan Rasulullah
dapat digolongkan menjadi dua bagian, di antaranya; pertama keteladanan
Rasulullah dalam lbadah, dan kedua keteladanan Rasulullah dalam Muamalah.
Maka dengan demikian pelajaran dan hikmah yang dapat diambil
dari keteladanan Rasulullah di antaranya tentang :
1. Usaha Rasulullah dengan memberikan nasihat
untuk meredam kemarahan Umar r.a.
2. Meneladani Rasulullah merupakan bukti
kecintaan dan ketaatan terhadap Sunnahnya.
Adapun agar pennasalahan di atas menjadi Iebih jelas dan
hasilnya dapat memuaskan, maka penyusun mencoba untuk menjabarkan dan
menguraikannya sebagai berikut :
1. Usaha Rasulullah dengan memberikan nasihat
untuk meredam kemarahan Umar r.a.
Al-Quran menjelaskan bahwa diangkatnya Muhammad Saw sebagai
utusan Allah adalah merupakan pemberian Allah terhadap orang-orang mu'min yang
mengajari dan membersihkan jiwa mereka. Beliau sebagai penasihat umat yang
terpercaya, penuh kasih sayang yang telah mengibarkan bendera ta'lim dan
tazkiyah, kedudukan yang tinggi melahirkan cahaya yang menerangi, yaitu sebagai
pembawa berita gembira bagi mereka yang berjalan di bawah naungan cahayanya dan
sebagai pemberi peringatan atau nasihat bagi mereka.
Seperti halnya pada peristiwa muamalah, bagaimana Rasulullah Saw
dalam memberikan nasihat, arahan dan bimbingan terhadap sahabat Umar r.a
tentang menghadapi perilaku seseorang dalam lain hal.
Nasihat-nasihat dan wejangan yang diberikan Nabi Saw itu tumbuh
dari suasana kesucian jiwa para sahabat, suasana yang menunjukan loyalitas dan
ambisi mereka terhadap ilmu, suasana yang mampu melahirkan keutarnaan untuk
orang yang memiliki kemuliaan dan memelihara kehonnatan, suasana yang selalu
dihiasai oleh kalimat "ya akhi" (wahai saudaraku) yang kerap
kali terlontar dari mulut sang guru kepada muridnya, suatu kalimat yang indah
yang terasa sangat menyejukkan perasaan setiap kali mengingatnya, kalimat yang
mampu membuahkan jalinan ukhuwah yang kuat antara mereka. Nabi Saw telah memperlakukan
mereka dengan perlakuan yang sangat familiar. Mereka tidak pernah diliputi
kekhawatiran akan dibeda-bedakan. Perbedaan struktur sosial mereka akan
terlupakan dengan perlakuan Nabi yang sangat terpuji itu. Bahkan Umar r.a
sepanjang hidupnya selalu teringat akan ucapan Nabi yang pernah diucapkan
kepadanya ketika is meminta izin untuk melaksanakan umrah, yaitu ucapannya :
"Wahai saudaraku, jangan lupa doamu untuk kami." Umar r.a selalu mngenangnya:
"Alangkah senangnya aku dengan kata-kata itu." Inilah suatu kesaksian
atas keagungan Muhammad Saw yang telah memperlakukan muridmuridnya dengan
akhlaq yang sangat terpuji itu. Mereka tidak pernah lupa dengan perlakuan
tersebut dan tidak pernah merasakan adanya penghalang antara mereka dengan
beliau. Suatu suasana yang tak pemah melahirkan keseganan untuk selalu
melontarkan pujian kepada guru yang telah diliputi oleh kecintaan.
Kesucian jiwa para sahabat untuk menerima nasihat tidak hanya
tampak dari penghormatan mereka terhadap Rasulullah sebagai guru dan pembimbing
mereka, tetapi tampak juga dari adanya sikap saling hormat menghormati dan
saling mengutamakan sahabat-sahabat lainnya.
Dari keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa, Rasulullah
dalam memberikan nasihat kepada para sahabatnya dengan sangat bijaksana serta
lemahlembut sehingga dapat memberikan motivasi yang sangat tinggi terhadap
sahabatsahabatnya.
Oleh karena itu Rasulullah dalam mensosialisasikan ajaran Islam
kepada sahabatnya, berbagai cara dan metode beliau gunakan. Sebagaimana yang
dijelaskan oleh M. Alawi Al-Maliki (2002 : 47-49). bahwa cara Rasulullah dalam
memberikan
pendidikan dan pengajaran yaitu : pembinaan umat, mengadakan pengkaderan,
bervariasi sesuai dengan situasi dan kondisi. dengan hikmah, mauizhah hasanah
dan jidal, memberikan motivasi kepada para sahabat agar mereka bergairah
mempelajari ilmu, melalui pendidikan keteladanan dan demonstrasi yang baik,
mengadakan diskusi, memberikan hafalan, serta memberikan nasihat.
Dengan cara-cara Rasulullah dalam memberikan pendidikan
pengajaran di atas maka ajaran Islam mulai mendapatkan sukses yang gemilang dan
lebih luas tersyi'ar.
Jadi dengan demikian hikmah dan pelajaran yang telah diberikan
Rasulullah baik kepada para sahabat-sahabatnya ataupun pada kita sekarang ini,
perlu kita pelajari dan dapat kita ambil manfaatnya. Hal ini dimaksudkan agar
kita memiliki kepercayaan pada diri sendiri, jika mau belajar, berpikir dan
bekerja keras.
2. Meneladani Rasulullah merupakan bukti
kecintaan dan ketaatan terhadap Sunnahnya
Menurut Yunahar Ilyas (1999 : 65) mengikuti Rasulullah Saw
adalah salah satu bukti kecintaan seseorang hamba terhadap Allah Swt. Setiap
orang yang mengaku beriman kepada Allah Swt tentulah hares beriman bahwa
Muhammad Saw adalah Nabi dan Rasulullah yang terakhir, penutup sekalian Nabi
dan Rasul, tidak ada lagi Nabi apalagi Rasul sesudah beliau (QS. Al-Ahzab :
40). Beliau diutus oleh Allah Swt untuk seluruh umat manusia sampai hari kiamat
nanti,
sedangkan
kedatangan beliau sebagai utusan Allah merupakan rahmat bagi alam semesta (QS.
Al-Anbiya : 107).
Nabi Muhammad Saw telah berjuang selama lebih kurang 23 tahun
membawa umat manusia keluar dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang.
Beliaulah yang berjasa besar membebaskan umat manusia dari belenggu
kemusyrikan, kekufuran dan kebodohan. Berbagai penderitaan beliau alami dalam
perjuangan itu, tapi semuanya itu tidak sedikitpun menyurutkan hati beliau
untuk tetap berjuang membebaskan umat manusia.
Nabi sangat mencintai umatnya. Beliau hid up dan berinteraksi
serta dapat merasakan denyut nadi mereka. Beliau sangat menyayangi umatnya clan
beliau ikut menderita dengan penderitaan umat dan sangat menginginkan kebaikan
untuk mereka.
Sebagai seorang mukinin sudah seharusnya dan sepantasnya kita
mencintai beliau melebihi cinta kits kepada siapapun selain Allah Swt. Bila
iman kita tulus, lahir dari lubuk hati yang paling dalam tentulah kita akan
mencntai beliau, karena cinta itulah yang membuktikan kita betul-betul beriman
atau tidak kepada beliau.
Sebagai konsekuensi dari menempatkan cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya sebagai cinta yang pertama dan utama, maka tentu saja cinta kepada
orang tua, anak-anak, suami atau isteri, harts benda dan lain sebagainya hares
ditempatkan di bawah kedua cinta tersebut.
Dalam mencintai Rasulullah, marilah kita meneladani para sahabatsabatnya
juga. Menurut Muhammad'Ali Ash-Shabuni (1981 : 232) para sahabat,
jika
diajukan pertanyaan di dalam majlis yang dihadiri Nabi, mereka tidak mau
mendahului beliau menjawab, apabila dihidangkan makanan mereka tidak akan
memulai makan sebelum Nabi memulainya, kalau berjalan bersama Nabi mereka tidak
akan berada di depan.
Para sahabat, karena sangat hati-hatinya menjaga jangan sampai
mendahului Rasulullah Saw, apabila ditanya oleh Rasulullah Saw biasanya mereka
menjawab dengan mengatakan "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu", sekalipun
sebenarnya mereka tahu jawabannya. Demikianlah sikap para sahabat memuliakan
dan menghormati Nabi, sebagai bukti kecintaan dan kepatuhan mereka terhadap
kekasihnya yaitu Rasulullah Saw.
Kalau kita buka lembaran sejarah dan kita telusuri kembali
rangkaian kisah generasi pertama dari kalangan sahabat Rasulullah dan para
pengikutnya, niscaya akan kita jumpai contoh-contoh manusiawi yang mengagumkan
tentang bagaimana mereka merasakan manisnya iman dari meneladani Rasulullah
yang menjadikan mereka taat dan patuh terhadap ajarannya.
Rasulullah Saw, sebagaimana rasul-rasul sebelumnya, diutus oleh
Allah untuk diikuti dan dipatuhi (QS. An-Nisa : 64). Apa saja yang datang dari
Rasulullah harus diterima, apa yang diperintahkannya diikuti, dan apa yang
dilarangnya ditinggalkan. Ketaatan kepada Rasulullah bersifat mutlak, karena
taat kepada beliau merupakan bagian dari taat terhadap Allah Swt. Dalam banyak
ayat Al-Quran, Allah meletakkan perintah taat kepada Rasulullah sesudah
perintah taat kepada-Nya.
Bagi seorang mukmin, tidak ada jawaban lain apabila diperintah
untuk patuh pada Rasulullah kecuali ucapan "sami'na wa atha'na. " Sebagaimana
yang dmyatakan dalam firman-Nya

"Sesungguhnya
jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya
agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialah ucapan; "Kami
mendengar dan kami patuh. " Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. "
(QS. An-Nur : 51)
Apabila perintah Rasulullah Saw tidak diikuti, malah yang
diikuti adalah kemauan masing-masing, maka yang rugi bukanlah Rasulullah
melainkan din' kita sendiri.
Ibarat jalan, maka jalan yang ditempuh oleh Rasulullah Saw dalam
kehidupan beliau adalah jalan lurus yang diridhai oleh Allah Swt. Melalui
beliaulah, Allah Swt menunjukkan kepada umat manusia jalan lurus tersebut dan
lengkap dengan rambu-rambunya. Barang siapa yang mematuhi rambu-rambu tersebut
tentu dia akan selamat sampai di tujuan yaitu keselamatan hidup di dunia dan di
akhirat, dan begitu juga sebaliknya.
Mengikuti dan mentaati Rasulullah Saw, berarti mengikuti jalan
lurus tersebut dengan mematuhi segala rambu-rambunya. Rambu-rambu jalan
tersebut adalah segala aturan kehidupan yang dibawa oleh Rasulullah yang
terlambangkan
dalam
Al-Quran dan As-Sunnah. Itulah dua wansan yang ditinggalkan Rasulullah Saw
untuk umat manusia.
Ajaran Al-Quran dan As-Sunnah yang diwariskan oleh beliau
bersifat konprehensif (mencakup seluruh aspek kehidupan), yang secara garis
besar warisan Rasulullah tersebut dapat di bagi kepada aspek ubudiyah (aqidah,
ibadah, akhlaq) dan aspek mu'amalah. Di antara empat aspek tersebut ada yang
dijelaskan secara terperinci yang oleh karena itu bersifat statis, dan ada yang
hanya diberikan garis besar atau prinsip-prinsipnya saja sehingga bersifat
dinamis. Yang bersifat statis itu adalah agidah, ibadah, akhlaq (dalam
pengertian nilai baik buruknya tidak berubah, tapi manifestasinya bisa berubah)
dan sebagian kecil aspek mu'amalah (yaitu tata kehidupan berkeluarga).
Sedangkan yang bersifat dinamis adalah sebagian besar aspek mu'amalah, seperti;
politik, ekonomi, sosial, budaya dan sebagainya.
Ajaran yang statis tidak boleh mengalami perubahan karena
fungsinya sebagai dasar atau landasan normatif yang membingkai dan mewamai
semua aspek kehidupan manusia. Sejak pertama kali diajarkan oleh Rasulullah Saw
kepada para sahabat, sampai kepada zaman sekarang Mil dan untuk masa
seterusnya, adapun aspek-aspek yang statis itu tidak boleh mengalami perubahan.
Apabila terjadi perubahan, akibat pengaruh yang datang dari luar Islam, baik
dari agama-agama maupun dari budaya lain.
Berbeda dengan aspek statis, maka ajaran Islam yang bersifat
dinamis selalu terbuka menerima perubahan. Oleh sebab itu Islam hanya
memberikan prinsip-prinsip dasamya saja, sedangkan pengembangan dan
penjabarannya
diserahkan
kepada historisitas umat manusia di setiap waktu dan tempat. Misalnya prinsip
musyawarah dalam memilih pemimpin, dapat dilaksanakan dengan mekanisme yang
berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.
Dengan demikian ketaatan dan kepatuhan kepada Rasul akan
membuahkan kehidupan yang baik, kehidupan yang sesuai dengan fithrah manusia
dan sesungguhnya apa-apa yang dibawa oleh Rasul adalah kebutuhan manusia yang
mengandung semua makna hidup yang sebenarnya.
Selain membuahkan kehidupan yang balk, yang layak, yang pantas,
yang sesuai dengan kebutuhan dan yang dibutuhkan di dunia, ketaatan itu pun
akan membuahkan kehidupan di akhirat nanti.
B.
Nilai-nilai Pendidikan dari Meneladani Rasulullah Saw
Agama Islam telah mengajarkan kepada semua pemeluknya agar
menjadikan dirinya sebagai manusia yang berjiwa suci dan luhur, memiliki
kepribadian yang mulia, lebih dari itu agar menjadikan dirinya sebagai manusia
yang beguna bagi dirinya sendiri dan orang lain. la
benar-benar dapat menghiasi dirinya dengan sifat-sifat kemanusiaan yang
sempurna, menjadi manusia yang shaleh dalam arti yang sebenamya, selalu
berusaha mempertinggi mutu kepnbadiannya sesuai dengan tuntutan Allah dan
Rasul-Nya.
Agar kita dapat memelihara harga diri dan sekaligus meningkatkan
mutu kepribadian yang luhur serta dihargai orang lain, maka hendaklah kita
membekali
din
dengan sikap dan perbuatan yang positif, di antara sikap dan perbuatan itu
merupakan nilai-nilai pendidikan dan meneladani Rasulullah, yaitu :
1.
Lemah-lembut, orang yang memiliki sikap lemah-lembut ini, biasanya mempunyai
perasaan halus, memiliki rasa belas kasihan dalam hati, sopan santun dalam
berinteraksi atau pergaulan. Dan is akan mempunyai rasa belas kasihan kepada
semua hamba Allah yang ada di muka bumi ini.
Sebagaimana firman Allah dalam QS.
Ali Imran ayat 159 :

"Maka di sebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku
lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. " (QS. Ali Imran, :
159)
Menurut Zakiah Daradjat (1983 : 37) bahwa perasaan kasih sayang
yang di dasarkan karena Allah akan mendapatkan ketenangan hati dan melegakan
bathin sehingga perasaan aman dan tentram akan terasa, maka dengan sendirinya
tindakannya akan tetap menunjukan bahwa ada rasa kasih sayang serta lemahlembut
tersimpan di dalamnya. Dengan memiliki sikap sayang kepada Allah maka seorang
muslim akan rela berkorban di jalan Allah dia akan selalu berbuat kebaikan
sesama manusia.
Kasih sayang merupakan kelembutan hati dan kepekaan perasaan
sayang terhadap orang lain, merasa sependerita. Semua itulah yang mempersiapkan
seorang
muslim untuk menghindari penderitaan, menjauhi kejahatan dan untuk menjadi
sumber kebaikan, kebajikan dan kedamaian bagi seluruh manusia
Oleh karena itu sikap lemah-lembut dan kasih sayang im adalah
kebutuhan bagi manusia terutama umat Islam (muslim) yang berperan sebagai
khalifah di muka bumi ini yang selalu dihadapkan oleh berbagai watak, keyakinan
serta kepercayaan, tanpa itu tugas sebagai kepemimpinannya tidak akan berhasil.
2.
Sabar, ialah
tabah dan sanggup menderita dalam menghadapi berbagai cobaan
dan ujian. Orang tabah tidak pernah
mengeluh dan tanpa ada rasa putus asa, baik dalam keadaan senang maupun susah.
Sebagaimana firman Allah:

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolong, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Bagarah, 153)
Nabi Muhammad -Saw dalam menyiarkan agama Islam, selalu
mengalami cobaan dan rintangan yang banyak sekali. Beliau dicaci-maki, bahkan
mendapatkan perlakuan kasar dengan dilempari batu dan kotorang binatang, ketika
mengerjakan shalat. Namun demikian beliau tetap sabar dan dengan lapang dada
serta haft yang bersih tetap menjalankan tugasnya mengajak umat untuk memeluk
agama Islam.
Sabar dalam ketaatan kepada Allah yaitu tetap memelihara
pelaksanaan ketaatan itu dengan ikhlas dan melakukannya menurut ketentuan
syara. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan harus menjauhkan din' dari hala-hal
yang dilarang oleh agama secara terus menerus, karena hat itu pula yang akan
menimbulkan rasa takut terhadap siksaan Allah serta menimbulkan buah dari
kesabaran yaitu kekalnya iman.
3.
Jujur: yaitu
sifat atau sikap seseorang yang menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya (benar),
apa adanya, dengan tidak ditambah dan tidak pula di kurangi. Dalam hubungannya
dengan sesama manusia, is selalu berusaha memberi manfaat kepada orang lain
serta menjaga jangan sarnpai apa yang dikatakan dan dilakukannya itu mengikuti
orang lain.
Sabda Rasulullah Saw

"Manusia
yang paling baik adalah manusia yang paling berguna (berjasa) bagi orang lain.
" ( HR.
Qudha'i dari Jabir)
Hadits di atas mengisyaratkan bahwa sifat seorang muballigh,
pengajar dan pendidik adalah sifat shidiq (berkata benar) dan amanah (dapat
dipercaya) dalam menyampaikan tablighnya.
Sebagaimana sifat-sifat tersebut sudah melekat pada din Nabi Saw
yang menonjol sebelum kerasulannya, karena beliau selalu berkata benar, jujur
dan dapat dipercaya. Kedua sifat inilah kemudian menjadi asas dasar dalam
menyampaikan risalahnya. Sampai-sampai kedua sifat ini menjadi julukan bagi
dirinya, orang-orang biasa memanggilnya dengan sebutan ash-Shadiqul Amin
(orang
jujur yang dapat dipercaya). Demikianlah Allah menghendaki agar julukan
tersebut membumbung tinggi dalam pandangan manusia dan menjadikan sebagai dasar
dalam memberikan manfaat ataupun jasa di antara sesamanya.
4.
Menepati janji; Agama Islam mengajarkan agar umatnya menepati janji, sebaliknya
membenci orang yang ingkar janji, sebab akan menghilangkan kepercayaan orang
lain dan merupakan dirinya sendiri. Sebagaimana firman Nya dalam QS. Al-Isra
ayat 34 sebagai berikut :

"Dan penuhilah olehmu akan janji, sesungguhnya janji itu
akan ditanyakan (dimintai pertanggung jawaban), " (QS. Al-Isra, : 34)
Karena janji adalah sebagai hutang atau amanah, jadi ayat di
atas menunjukan bahwa yang di mana apabila amanah itu tidak dapat dilaksanakan
oleh orang yang bersangkutan (meninggal), maka amanah tersebut dibebankan
kepada orang yang ada hubungannya dengan orang yang diberikan amanah atau
hutang tadi (keluarga atau ahli warisnya), karena orang yang memiliki hutang
wajib hukumnya untuk membayar hutang tersebut.
5.
Ikhlas; yaitu
mengerjakan sesuatu, baik yang berhubungan langsung dengan Allah maupun sesama
manusia hendaklah dengan perasaan ikhlas tanpa ada paksaan, semuanya dikerjakan
semata-mata karena Allah.
Sikap ikhlas itu tampil dari hati yang rela berkorban baik
terhadap Allah sebagai penciptanya ataupun sesama manusia, hal itu merupakan
motivasi untuk melakukan pengabdian dalam mengemban peranan dalam. menjalankan
kekhalifah yang di dalamnya tersirat kehendak dan perilaku berdisiplin, berupa
kesediaan berlaku konsekuen dalam menjalankan serta mematuhi peraturan dan
ketentuan.
6.
Optimis; mempunyai cita-cita yang tinggi,
yakni keinginan yang di barengi dengan usaha yang sungguh-sungguh dan penuh
kesabaran, agar menjadi manusia yang hidupnya dapat bermanfaat bagi dirinya dan
bagi orang lain. Sebaliknya Allah membenci orang yang pesimis atau putus asa,
seperti dijelaskan dalam Quran surat Yusuf ayat 87, yang artinya : " dan
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa
dari rahmat Allah, kecuali orang-orang kafir."
Oleh karena itu sikap optimis dan dibarengi dengan keyakinan
yang tinggi, yang akan mengukuhkan niat untuk mengisi lembaran hidup dengan
penuh keikhlasan mematuhi petunjuk-petunjuk Allah dan rasul-Nya. Karena Allah
tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang mendekatkan din kepada-Nya serta
menanamkan keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan Maha Pemurah, Maha Kaya dan Maha
Mendengar do'a dan usaha orang yang selalu taat serta patuh terhadap aturan dan
petunjuk-Nya.
Dari semua nilai-nilai edukatif di atas memberikan gambaran
tentang sebagian kepnbadian sang pendidik Saw. Seperti yang telah dibahas,
bahwa beliau sangat berambisi atas keberhasilan dan keselamatan umatnya lewat
penyampaian nsalahnya. Dan risalah itu telah sampai kepadanya dengan jalan yang
aman dan tenteram di dalam hatinya dalam keadaan terang dan jelas. Beliau
sendin sangat dekat dengan orang-orang yang di sekitamya karena kelembutannya
dan kasih sayangnya sehingga mereka mencintainya dengan kecintaan yang tiada taranya.
Kesabaran dan ketabahan telah dibekalkan kepadanya di saat-saat banyak
rintangan, kelapangan dada telah beliau miliki di saat-saat pendentaan disertai
dengan ambismya yang selalu membara untuk menyampaikan risalah. Maka beliau berjuang
tanpa panu-ih, tanpa mengharapkan balasan apapun atas segala apa
yang telah dilakukannya. Imlah suatu kesempurnaan yang layak diperhatikan oleh
setiap guru dan pendidik demi tercapainya kesuksesan dalam pengajaran.
No comments:
Post a Comment